Tak Kenal Maka Ta’aruf

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman didalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ”

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat:13)

Ta’aruf saat ini sering dipersempit maknanya, dimasyarakat kata tersebut biasa digunakan untuk 2 orang insan yang ingin melajutkan proses kejenjang pernikahan, tidak salah sih, namun sejatinya ayat diatas merupakan dalil “umum” untuk siapa saja agar saling berkenalan dengan saudara muslim lain dan juga saudara sebangsa senegara.

Bayangkan kalau kita tidak saling mengenal?

Apakah kita mampu hidup secara individu tanpa bantuan orang lain?

Tentu hal tersebut mustahil untuk kita lalui, apalah daya kita tanpa ibu dan bapak kita, apalah daya kita tanpa orang-orang yang membantu kita dalam setiap aktivitas dan problematika kehidupan yang kita lalui. Karena sejatinya kita adalah mahluk sosial yang butuh sosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain, itulah pentingnya untuk kita saling berta’aruf 🙂

Introduction MySelf

Source: Instagram.com/elnandar

 

Yoo.. whats up guys?

Gimana muqodimah tulisan gue diatas? udah cocok belum nih gue jadi Ustadz? wkwkwk… 😀

Perkenalkan, nama gue Arif Munandar, biasa dipanggil Arif tapi kalo kalian mau panggil Munandar atau Nandar it’s okay terserah enaknya kalian aja ;)

Ohya, mungkin diantara kalian ada yang bertanya-tanya kenapa pake nama “El nandar”? jawabannya, yaaa biar keren aja sih, gabungan nama Nandar + El

Gue lahir di Jakarta, Desember 1994 (tanggalnya rahasia yaks hehe..), tapi bisa dibilang gue ini orang keturunan Jawa tulen yang cuma numpang lahir di Jakarta doang sih, bapak gue orang Pemalang dan ibu gue asli Tegal, makannya keluarga besar dari ibu gue rata-rata jadi tukang warteg alias Warung Tegal.

Foto rumah(baca: warteg)

Berawal dari nenek dan kakek gue yang mencoba peruntungannya di Ibu Kota, dari tahun 80an sudah mulai berjualan (warteg). Ibu gue setelah lulus SMP merantau ke Jakarta untuk bantu ibunya aka. nenek gue, karena menurut orang dulu mungkin anak yang udah lulus SMP udah pantes buat kerja sendiri alias mandiri, makannya nenek gue tidak melanjutkan pendidikan ibu gue kejenjang SMA. Kalo mau SMA ya silahkan, asalkan biaya sendiri, ohh meeenn….

Dari proses itulah ibu gue akhirnya memutuskan untuk merantau ke Jakarta untuk membantu jualan, di Jakarta pula akhirnya ibu gue bertemu dengan pasangan hidupnya yaitu bapak gue dan punya anak pertama yaitu gue.

Si Anak Sulung

Foto gue bareng adek

Yaps, gue adalah anak sulung alias pertama dari 3 bersaudara, adik gue yang pertama namanya Fithrotur Rohmah (15), sekarang lagi di pondok tahfidz quran di Depok, katanya sih sekarang udah hafal -+ 15 juz-an, doakan ye semoga cepat jadi Hamilul Quran dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa hehe. Adik gue yang ke-2 namanya Miftahul Irham (13), dia lagi modok juga di daerah Bogor.

Kehidupan Masa Kecil

Foto gue saat kelas 1 atau 2 SD, udah ketawan gantengnya haha

Dari lahir sampe umur 5 tahun gue tinggal di Jakarta bareng nenek dan ortu gue, ada 1 hal yang masih gue inget sampe sekarang saat tinggal disana, yaitu ketika gue jatoh dari sepeda trus pingsan, kebetulan saat itu lagi dimomong sama orang lain. Akhirnya pas Ibu gue tau dia ngomel-ngomel karena panik anaknya pingsan.

Setelah mau masuk Taman Kanak-kanak alias TK gue pindah ke Depok, kehidupan masa kecil gue hampir sama dengan sebagian besar orang-orang lain, gak mikir duit, yang penting setiap minta uang jajan selalu dikasih :D, dan masa tersebut tak akan terulang lagi 🙁

Gue inget banget pas TK selalu dianterin ortu kesekolah, dimasakin bekel yang enak-enak macam nasgor, mie goreng, nugget hahaa bagi gue, dulu makanan itu enak banget coyy 😀

Gue juga termasuk orang yang sering bolos sekolah pas TK, kalo males masuk atau minta sesuatu gak diturutin trus ngambek pasti gak mau masuk sekolah ujung-ujungnya hehe… Gue yakin kalo kalian senyum-senyum sendiri baca kisah kecil gue diatas, kalian juga pernah kayak gitu kan? Hayoo ngaku 😀

Okay, lanjut kejenjang selanjutnya hehe…

Sama seperti yang orang kebanyakan, gue juga sekolah SD, saat itu umur gue sekitar 7 tahun. Dan gue rasa semua orang pas masuk SD pasti merasa antusias, yang ada dipikiran adalah dapet temen baru, bisa mainan bareng.

Kisah paling epic saat gue SD ada di kelas 4 sampe 6, disaat itulah gue belajar banyak hal sebagai anak kecil, hingga akhirnya mengubah watak gue yang tadinya bandel jadi sedikit “alim”.

Pindah-Pindah Sekolah Saat SMP

Kisah paling random ada saat gue masuk jenjang SMP, saat awal lulus SD gue udah punya target untuk sekolah MTs biar keilmuan islam gue sedikit bertambah, akhirnya gue diterima disalahsatu MTs Negeri di Jakarta. Disinilah awal kisah itu dimulai, awal-awal sekolah gue merasa nyaman dan asik-asik aja sih.

Tapi ada masanya dimana gue jadi bahan bullyan sama beberapa teman gue saat itu, sampe yang buat gue give up, saat camping kenaikan kelas muka gue dicorat-coret pas tidur, disitulah hati gue mulai berkata “hmm, udah rif, saatnya lu pindah sekolah”. Masa liburan kenaikan kelas itu gue pake buat bujuk orangtua agar bisa pindah sekolah dan misi gue berhasil #Yashh… “akhirnya gue keluar dari penjara sekolah” ucap hati kecil gue.

Masuk Pondok

Ilustrasi Santri

Setelah beberapa hari akhirnya Bapak gue ngasih tau sekolah baru gue, dia bilang gue akan dimasukan pondok, “Oh my God, pondok?” yang ada dipikiran gue saat denger kata “pondok” adalah nyuci apa-apa sendiri, makan seadanya, air susah, ya pokoknya negatif lah.

Tapi bukan itu yang gue sedihkan, gue juga harus rela ngulang dari kelas 1 SMP lagi karena ada banyak pelajaran yang gak diajarkan di MTS.

Oh my God… cobaan apa lagi ini?

Akhirnya gue terimalah tawaran itu, gue masuk pondok di tahun 2008, tahun dimana seharusnya gue kelas 2 SMP tapi ahh,,sudahlah…. gue harus sabar dan menerima kenyataan ini.

Karena tangan udah pegel, gue akhiri dulu artikel pertama gue sampe sini yak

Selanjutnya gue masih akan membahas tentang cerita saat gue SMP, yang akhirnya harus pindah lagi dari pondok pesantren, penasaran? tunggu aja hehe 🙂

 

 

 

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: